Memang saya yang pertama mengenalkan Mocca dalam sajian musik pagi di rumah, hafal sudah pasti karena saya dengarkan sejak masih sekolah, tapi anak istri telinga mereka masih pe-mu-la (bahkan penulisan "Pemula" harus dipisah karena saking pemulanya)
"Wes pokoknya nanti mulutnya melok umik-umik biar keliatan ngerti" pesan saya sebelum berangkat nonton konser Mocca, seolah seperti Bens Leo menawarkan musik baru pada mereka.
Bergantian saya gendong Hayya dan Ayi menari, berjoget dan berputar-putar untuk tunjukan bahwa panggung musik bukan hanya menghibur pun juga musik bagian dari sesuatu yang membangun kita. "Don't you give up, keep your chin up And be happy Ayi dan Hayya".
Perjalan pulang tak serta merta membiarkan Ayi kelimpungan tanpa asupan malam, kami belok otomatis ke nasi goreng langganan.
Bak Pungguk merindukan bulan tapi bulannya juga merindukan pungguk, kami melihat Om Indra Drummer dari Mocca juga mampir makan malam ditempat yang sama, kesempatan itu biasa disebut "Very Rare" dalam bahasa kekinian dan harus dirayakan dengan berfoto bersama.
Kendati BMKG memprediksi 48% daratan di Indonesia mengalami puncak kemarau di bulan Agustus, ternyata malam ini tidak.
Menyaksikan kembali Mocca setelah 16 tahun, membeli Merchandise Official-nya serta bantingan Kartu As bertatap muka langsung dengan personilnya membuat hatiku rembes, pengalamanku dengan Mocca tak sempat terprediksi akan banjir dengan kebahagiaan.
Komentar
Posting Komentar
PINERANG BLOG
TERBIT SEMAMPUNYA SEJAK 2008